Mboh
Tetiba ku ingat masa masa kuliah dulu, bagaimana ku masuk kelas sendirian, bagaimana ku vacation bareng fellas gueeeh, di pantai, di jalan, di rumah makan, di kelas, di taman kampus, di kantin, dengan kamu mereka dia.
Ya Alloh, kenapa kau menciptakan kenangan? Tapi sebenarnya bukan ingatannya yang ku maksud, karena memang fungsi otak untuk menyimpan memori dan mengeluarkannya kembali untuk suatu kebutuhan, namun semua berkaitan dengan perasaan, perasaan yang begitu menyenangkan-menyedihkan, menyenangkan karena semua ku lakukan atas dasar keputusanku, dan aku pun sadar akan hal itu. Menyedihkan, iya menyedihkan karena itu semua sudah berlalu, kalaupun diulang kembali tak akan sama rasanya, karena beberapa hal sudah berubah karena waktu, kejadian itu sudah terjadi beberapa waktu lalu dan bila diulang kembali dengan komposisi yang samapun tak kan sama, karena kita hanya mengulang, pasti lah beda. Bukan salah perasaan, karena rasa adanya di jiwa seseorang, entah bagaimana aku menjelaskan perasaan, di mana letak perasaan tersebut? Kata orang perasaan ada di dalam hati, karena bila kita merasakan hal-hal yang membahagiakan atau menyedihkan dada kita terasa sesak seakan tehimpit dua gunung yang akan meletus menghebuskan larvanya keudara yang menghasilkan ekspresi tawa dan tangis. Ada pula yang bilang bahwa perasaan itu muncul karena hasil dari pemikiran otak kita, dengan memacu laju detak jantung sehingga memacu laju darah keseluruh tubuh serasa seakan kepala akan meledak dan telinga-hidung-mulut mengeluarkan asap, kepala dan wajahpun memerah merona sambil mengeluarkan expresi dari bentuk perasaan itu. Hmmmm, bukan waktu juga yang ku salahkan, karena waktu tidak akan pernah bisa kembali, bukan ku menyalahkan waktu yang dulu pernah ku gunakan untuk mengukir kenangan, dan bukan ku salahkan waktu pula karena aku masih hidup hingga saat ini.
Jadi, siapa yang harus ku salahkan? Otakku? Pikirianku? Hatiku? Perasaanku? Waktuku? Atau semua ini karena orang-orang yang ada di sekelilingku? Karena merekalah sebab dari semua ini terjadi. Dengan norma yang terbentuk dari otak dan jiwa mereka sehingga menghasilkan adat dan budaya seperti ini itu?! Bukan, bukan salah mereka. Bila ku salahkan mereka maka secara tidak langsung ku menyalahkan diriku sendiri, jasadku yang hadir hingga saat ini di dunia ini, yang secuil debu itu ku pastikan ikut andil dalam pembentukan norma adat dan budaya didunia sekarang hingga nanti. Dampak dari satu mahluk saja didunai ini akan berdampak kepada sekeliling kita, kemudian berlanjut ke generasi berikutnya hingga anak cucu kita. Berarti bila ku salahkan mereka yang paling benar adalah aku? Aku kah yang paling benar diantara mereka? Hah?!! Tau diri lah, aku bukan tuhan, aku bukan pula rasul atau nabi, ulama atau cendikia yang begitu hebat dan mendunia. Mau menyalahkan mereka?? Kamu itu siapa??! Salah! Iya salah, tapi bukan berarti aku yang salah sehingga mereka pun benar, aku pun tak mau disalahkan atas semua ini. Sudahlah, hentikan ini semua. Setengah jam ku menulis ini baru sadar ini satu langkah menuju gila dan mempercepatku untuk dibawa ke rumah sakit jiwa.
Hahahaha, aku berlepas diri dari apa yang telah ku tulis, dengan segala resiko otak yang selalu bertanya2 tentang semua hal yang hanya mebuang waktu dan energimu memikirlan hal-hal yang sepele yang kemudian kau besar-besarkan. Bila kau merasakan hal itu mucul, maka segera lah kau melihat waktu dan, sadarkanlah dirimu dengan kondisi sekelilingmu. Karena ini tidak akan berujung dan mengakibatkan melakukan hal-hal yang sia-sia.
Yang terpenting kenapa ku menanyakan hal ini? Bolehkah? Bagus/buruk kah? Entah
Masyaalloh, begitu adil Alloh menciptakan segala sesuatu bila kita mebuka hati-pikiran-dan waktu. Begitu kecil otakku hingga memikirkan hal sekecil ini pun aku tak sanggup, begitu sempit wawasanku hingga membahas hal sepele seperti ini pun aku tak mampu. Begitu luas ilmu Mu Ya Alloh, bahkan kau menyebutkan dalam surat al-Kahfi dalam firman Mu : "Jikalau semua lautan kau jadikan tinta tuk menulis kalimatk Ku (ilmu Alloh) lautanpun akan habis sebelum kau tuntas menulisnya, bahkan bila Ku beri lautan itu lagi-lagi-dan lagi".
Love yu, unch unch..
#huekk

Komentar
Posting Komentar