Pikiro Dewe (jawa: pikir saja sendiri)
Wasap cuuy, yaampun ampun deh kalo gini, hari ini kok aku beper lagi ya? Biasa masalah masadepan. Hmm, sebenernya kita ga boleh lho ngebahas hal-hal yang berbau masa depan karena masa depan adalah hal yang kita ga tau gimana, walaupun bisa diperkirakan atau diprediksi. Sekalipun diprediksi tetep aja meleset. Dari mana sih kita bisa prediksi atau perkirakan? Dari apa yang sudah kita lakukan selama ini. Apa yang pernah kita jalani dulu sampai sekarang.
Makin pusing nih, gini deh seumpama, suatu hari ada bocah namanya didit, waktu kecil dia dulu suka main kaya bocah2 lain, disekolah juga rengkingnya lumayan, sekolah di sekolah ternama, bapaknya PNS ibunya PNS, setelah dewasa dia kuliah di tehnik mesin univ ternama, kuliahnya ya normal, suka main juga, hidupnya ga banyak neko-neko lah, sekarang dia kerja di bengkel garuda di tangerang. Kerjaan yang cuma orang2 khusus yang bisa masuk sana. Taulah BUMN maskapai penerbangan, ga mudah lho cuy masuk sini, entah sleksinya atau apanya lah yang berat, juga gajinya pasti ga main-main.
Ok mari kita bahas satu persatu yang namanya prediksi atau kira-kira. Dulu didit anak kecil yang sekolah di sekolah ternama yang juga suka main seperti anak-anak kebanyakan di sana. Mungkin sekolahnya dulu dia pinter di pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan dunia tehnik mesin seperti matematika, ipa, fisika, dll. Waktu maun juga mungkin dia adalah orang yang mahir dalam menggunakan alat mainnya bahkan membuatnya sendiri mungkin. Waktu kuliah dia mahasiswa yang biasa layaknya mahasiswa lain di kampusnya, sambil baca-baca buku tehnik juga serius membangun link untuk menambah teman dalam satu jurusan, juga sering praktek lapangan yang membuatnya semakin faham dan tau tentang permesinan. Dan akhirnya dia diterima di bengkel garuda yang gajinya banyak tapi kerjanya nyantai gitu. Ini yang namanya prediksi, tapi pasti meleset dari apa yang sudah diprediksi.
Aduuh, belum faham juga ya? Langsung intinya aja yah. Aku tuj sebenernya galau, pingin bilang kalau aku tu sejak kecil pingin banget jalan-jalan naik pesawat keluar negeri. Tapi belum tercapai sampai aku dewasa. Nah, remaja dulu aku bercita-cita jadi seorang DUBES, karena tau bapaknya temenku ada yang jadi deplu, masa kecilnya dia dulu di jepang, sampai hampir SD selesai, dia pindah ke negara mana lagi, trus mana lagi, terus mana lagi, gituu. Akhirnya aku pingin jadi seorang DUBES, tapi kok malah melenceng ya dari apa yang sudah aku perkirakan. Mungkinsalah jalan atau salah langkah atau salah sikap. Akhirnya sekarang cuma jadi sales representative di distributor obat. Kerjanya jalan-jalan muterin kota, ketemu apoteker syantik sama ngeliatin dokter pada sliweran. Nah ahirnya mikir tu, sebenernya mereka yang bekerja sekarang ni, dulu pada punya cita-cita ga sih? Atau cuma keblasuk (bhs jawa: tersasar) di bidang tersebut? Rata-orang sih kalaua aku tanya pasti dia jawabnya "untumg diterima di sini" serius? Mereka ga tau bakal keterimana di mana? Atau kerja dimana gitu? Berarti itu coba2 dan ga tau, main prediksi juga, terus?
Hambuh lah, aku males nyelesaiin pembahasan ini, sekarang masi pagi buta, tidur aja lagi nyok, biarin lah. Allohumma Robbi alamiin, Semoga kita terlindungi dari sikap yang soktau dan membodohi orang, semoga kita menjadi orang yang jujur, bijak dan dermawan. Semoga apa yang sudah kita tuai, akan berbuah sebagaimana mestinya, namun bila tidak maka semoga kita diberi kesabaran dan diberikan penggantinya yang lebih baik. Allohumma sholliala Muhammad, Amiin

Komentar
Posting Komentar